Selasa, 23 Desember 2014

Pemenang

kehidupan adalah sebuah pertandingan. ada kalah dan ada menang
mencapai kemenangan butuh kerja keras dan perjuanagan yang hebat. menjadi seorang pemenang pasti mengalami proses yang hebat. kemenangan tidak ada yang instan. berjuang lah menjadi seorang pemenang. seorang pemenang adalah orang yang berani bangkit saat mengalami kegagalan dan akan terus berjuang samapai kemenangan itu menjadi miliknya.

Terus Melangkah


Terus Melangkah
Terus melangkah apaun keadaan yang dialami. Sekalipun orang disekeliling membuat kita sulit untuk melangkah. Mungkin kita sering mengalami kegagalan dalam pencapaian target keadaan inilah yang terkadang membuat kita putus asa. Teruslah melangkah dalam mencapai target meskipun mengalami kegaagalan. karena Tuhan bukan memprioritaskan hasil tetapi menyukai proses yang kita lewati dan dari prose situ mampu memberikan pelajaran dan hikmat dari setiap ketaatan.

Jadi jangan pernah berhenti melangkah saat engkau mengalami kegagalan.

Sir sarang lebah


Si sarang lebah
Ada tiga sifat dari seorang yang suka memberi, yaitu sifat batu api, spon, dan sarang lebah. Untuk mendapatkan sesuatu dari si batu api, kita harus memukulnya. Walaupun sudah dipukul biasanya kita hanya akan mendapat serpihan dan percikan bunga api. Untuk mendapatkan sesuatu dari spon, kita harus memerasnya. Itulah sifatnya, mudah meyerah pada tekanan. Ia baru member hanya jiak ada yang bersedia memaksanya. Berbeda dengan si sarang lebah, orang tidak perlu melakukan apapun untuk memaksanya member. Karena ia ada untuk member, tidak hanya member tempat yang nyaman bagi lebah, tetapi juga tempat untuk madu yang manis.

Dalam perumaan ini mengajarkan janganlah seperti batu api atau si spon tetapi jadilah seperti sarang lebah, memberikan yang manis atau madu tanpa berfikir kepada siapa ia member. Belajar untuk selalu memberi yang “manis” bagi sesama tanpa berfikir kepada siapa kita memberi.

Mengubah Mindset


Mengubah Mindset
Mindset berhubungan dengan pola pikir.
Banyak orang yang menginginkan perubahan dalam hidupnya. Tetapi hanya sedikit orang yang mau mengubah dirinya sendiri. Orang tersebut hanya bisa menuntut orang lain memenuhi keinginannaya tetapi hamper tidak mau peduli dengan kebutuhan orang lain. Karena itulah banyak orang yang mudah untur berfikir negatif terhadap keadaan dan orang disekitar. Berfikir negatif terjadi karena mindset yang masih salah.
Berfikiran negatif akan sulit untuk menerima kenyataan. Kita tidak bisa mengubah keadaan sesuaidengan keinginan kita. Tetapi yang pertama harus kita ubah adalah cara berfikir kita atau mindset. Mindset kita menentukan perasaan dan perasaan kita mengendalikan kita.

Ubahlah mindset kita hingga kita bisa selalu berfikir positif  karena berfikir positif akan menuai hasil yang positif pula.

Mengubah Kebiasaan


Mengubah Kebiasaan
Sesuatu yang sering kita dilakukan itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan sulit untuk diubah. Kebiasaan yang memberi kesenangan itulah yang sering diulang ulang tanpa berfikir kebiasaan yang diulang – ulangi nya baik atau tidak. Hal inilah yang sulit mengubah kebiasaan yang ada dalam diri kita.

Sulit bagi kita melawan godaan yang berasal dari dalam diri sendiri. Karena itu harus tegas pada diri kita. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan burukm tetapi bukan berarti hal itu tidak mungkin dilakukan. Cara mengubah kebiasaan buruk hanya dengan kemauan kita terlebih dahulu. Kita bisa menghentikan kebiasaan buruk itu dengan membiasakan diri melakukan hal yang baik. Mungkin sulit pada awalnya, tetapi jika kita sudah terbiasa dengan dirinya sendiri kita mampu melakukannya dengan mudah. Kebiasaan akan menjadi karakter. Maka dari itu ubahlah kebiasaan yang buruk menjadi baik sehinggs memiliki karakter yang baik.

Keep Spirit


Keep Spirit
Seringkali kita mendengar atau melihat tulisan keep spirit. Kata yang simple tapi memiliki makna yang besar. Seringkali kita mengucapkan kata keep spirit untuk orang-orang disekitar kita ataupun untuk diri sendiri.
Keep spiri dengan arti tetap semangat. Butuh semangat yang baik untuk menjalani kehidupan sehari – hari.
Bagaimana kita tetap memiliki spirit (semangat)
·         
  •       Tidak mudah menyerah dengan keadaan

Sering kali kita terhenti, terdiam, bingung bahkan samapai putus asa. Keadaan sepertini lah yang membuat kita kehilangan semangat. Apapun keadaannya dan seburuk apapun keadaannya jangan terpengaruh dengan itu semua. Saat keadaan tidak baik, kita perlu menyemangati diri sendiri untuk tetap bertahan melawan keadaan tidak baik itu. Orang yang pantang menyerah tetap kuat pada pendiriannya dan tidak mudah putus asa.
Tidak mau kalah dengan keadaan disitulah semangat itu akan menjadi kuat atau berpengaruh besar.
·        
  •       Tetap berdoa dan mengandalkan Tuhan

Saat keadaan tidak baik berdoalah kepada Tuhan, mintalah semangat yang baru dari padaNya. Orang yang pantang menyerah merupakan kendaraan yang akan membawa kita kepada perbuatan iman untuk menerima pertolongan Tuhan. Apapun keadaan yang kita alami tetap semanagat, berdoalah dan serahkanlah hidupmu kepada Tuhan. 

Rabu, 22 Oktober 2014

Berkunjung ke “HEALTHY BEANS”

Nama    : Dina Novayanti
Npm      : 22212166
Kelas     : 3EB08

 Berkunjung ke “HEALTHY BEANS”
Pada suatu waktu setelah jam kuliah selesai saya bersama teman saya berkunjung ke tempat jajanan sehat disekitar depok, namanya HEALTHY BEANS.tempat ini merupakan tempat jajanan yang sering saya kunjungi. Awalnya penasaran dengan healthy beans setelah mencoba mencoba salah satu menu yang ada di healthy beans, saya jadi tertarik untuk datang lagi. Biasanya saya dan teman saya datang  ke healthy beans setelah selesai kuliah.
Tempat ini memang ada dipinggiran jalan, walaupun dipinggiran jalan tempat ini tetap menjaga kebersihan jualannya. Tempat ini bersih, unik dan nyaman untuk tempat bercengkrama. Tempat ini cukup mudah di temui karena lokasinya yang strategis.
Tempat ini di bilang unik karena menunya. Menu yang disediakan bahan dasarnya terbuat dari kacang kedelai. Banyak sekali menu yang tersedia di tempat ini, yang pasti semuan nya makanan sehat. Selain dari menu nya yang unik, pelayanan d tempat ini juga baik dan ramah kepada pembelinya. Harga – harganya pun terjangkau buat kantong mahasiswa.
Dengan menu yang unik dan harga yang terjangkau tempat ini sering di penuhi dengan pembeli / pengunjung
Rata – rata pengunjung nya anak mahasiswa, karena tempatnya nya dekat dengan beberapa kampus sekitar depok.
 Ini merupakan daftar menu yang tersedia di healthy beans





Seperti itulah yang bias saya ceritakan mengenai tempat yang saya kunjungi.
Menurut pendapat teman saya, tempat ini enak untuk tempat santai untuk beristirahat setelah seharian kuliah, pastinya tidak lupa juga ditemani dengan salah satu menu yang ada di helthy beans.





Sabtu, 19 Juli 2014

Berbuat Baik

saat oranglain tidak menilai perbuatan baik kita, tetaplah berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang apapun. berbuat baiklah tanpa mengharapkan pamrih. sesungguhnya berbuat baik yang tulus akan terlihat bedanyaa nya dengan berbuat baik yang ada maksud tersembunyi.
sekecil apapun perbuatan baik kita, Tuhan sangat menghargai itu dan sangat bangga. biarlah perbuatan kita terlihat kecil dimana manusia tetapi terlihat besar dimata Tuhan.
tetap berbuat baik kepada semua karena, karena itu wujud kasih kita kepada sesama
God bless you . . .

Tuhan yang selalu mengerti

ketika kita merasa dalam posisi sendiri, seakan tidak ada orang yang mampu menolong kita, tetaplah berjuang menghadapi posisi itu. Tuhan selalu ada bersama kita dalam setiap waktu.
saat orang sekeliling kita datang terlambat dalam menolong, tapi kita masih memiliki sosok pribadi yang tidak pernah terlambat menolong kita. pertolongan Dia atas hidup kita selalu tepat. tidak ada yang teralu cepat dan tidak ada yang teralu lama.
hanya Dia yang mampu mengetahui seluruh keadaan pribadi kita, karena Dia yang memiliki kita.
hadapi setiap situasi kehidupan ini baik situasi tidak baik maupun situasi baik. melalui setiap situasi yang kita hadapi, kasihNya semakin nyata atas kehidupan kita.
berjalanlah dalam rencanaNya. rencana yang mendatangkan kebaikan atas setiap kehidupan kita.
 God bless you . . .

Selasa, 06 Mei 2014

ASPEK RELIGIUSITAS DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK HALAL

ASPEK RELIGIUSITAS
DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK HALAL
(Studi tentang labelisasi halal pada produk makanan dan minuman kemasan)

Oleh:
Dwiwiyati Astogini1), Wahyudin1), dan Siti Zulaikha Wulandari1)



1)

Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman



ABSTRACT

Religiosity is one's religion appreciation concerning the symbols, beliefs, values and behaviors that are
driven by spiritual forces. Indonesian consumer behavior in products purchasing decisions, also can be
considered as a part of activities related to the religiosity. This study aims to determine the influence of
Religiosity on halal product purchasing decisions, and examine the most influential religiosity dimension on
purchase decisions of packaging food and beverages, as well as consumer perception of MUI’s halal logo and
company’s halal logo. Target population in this study is consumers in Purwokerto, which is buying packaging
food and beverages and aged over 15 years and make a purchase decision based on his own. Samples of the 100
respondents obtained by accidental sampling method. This study used five Religiosity dimension proposed by
Stark and Glock as independent variables : Ritual, Ideological, Intellectual, experience and Consequences
Dimensions. The dependent variable is consumer purchasing decisions of packaging of food and beverages. By
using multiple regression analysis showed that Religiosity has no effect on consumer purchasing decisions of
packaging food and beverages and Consequences Dimension is the most influential religiosity dimension. Also
note that most consumers believe both LPPOM-MUI halal logo and halal logo issued by the company.

Keywords: Religiosity, Consumers decision, Halal Food and Beverages



PENDAHULUAN
etiap  negara  dan  atau  bangsa  memilik karakteristik  khusus  yang  mencerminkan perilaku konsumen masing-masing negara dantau bangsa tersebut. Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusandan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mempergunakan barang dan jasa (Loudon, Dellabitta,1993).  Perilaku  Konsumen  Indonesia menurut Handy Irawan (2007) memiliki sepuluh (10)
 penghayatan     (experiential)     dan     Dimensi konsekuensial (pengamalan) Perilaku    konsumen    Indonesia    dalam pengambilan keputusan pembelian produk, juga dapat dikatakan sebagai bagian dari aktifitas yang berkaitan dengan religiusitas.  Perilaku Konsumen Indonesia yang religius dapat dilihat dari adanya kenyataan yang menunjukkan bahwa konsumen Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Pada umumnya, konsumen suka dengan produk yang mengusung simbol-simbol agama, sehingga para pelaku bisnis banyak yang memanfaatkan simbol-karakter unik, yaitu : Berpikir Jangka Pendek, Tidak
 simbol   agama   dalam   melakukan
strategiTerencana, Suka Berkumpul, Gagap Teknologi, pemasarannya. Namun demikian, dalam kenyataanOrientasi Pada Konteks, Gengsi, Kuat di Sub culture,sehari-hari masih   terdapat   beberapa   perilaku

Kurang Peduli Lingkungan dan Religius.
Religiusitas   adalah   penghayatan   agama
seseorang yang menyangkut simbol, keyakinan, nilai
dan perilaku yang didorong oleh kekuatan spiritual.
Religiusitas dapat digambarkan sebagai adanya
konsistensi antara kepercayaan terhadap agama
sebagai unsur kognitif, perasaan agama sebagai unsur
afektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur
psikomotorik. (Rahmat, 1996).
Aktifitas beragama yang erat berkaitan dengan
religiusitas, bukan hanya terjadi ketika melakukan
ritual (ibadah) tetapi juga aktivitas lain yang didorong
kekuatan batin (Ancok, 2001:76). Jadi, sikap
religiusitas merupakan integrasi secara komplek

konsumsen   yang   tidak   menunjukkan   adanya
religiusitas    konsumen.    Misalnya,    konsumen
seringkali tidak memperhatikan kehalalan suatu
produk jika tidak ada isu haram terhadap produk
tersebut, adanya konsumen yang membeli produk
bajakan, masih banyaknya masyarakat (muslim) yang
memilih menggunakan jasa layanan keuangan yang
konvensional dibandingkan yang syariah, meskipun
Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara jelas telah
mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah
haram, dan lain-lain.
Dari sekitar 100 ribu consumer goods (produk
makanan, obat dan kosmetik) yang beredar di pasaran
Indonesia, hanya 84% yang mempunyai sertifikat antara pengetahuan agama, perasaan serta tindakan
halal,   sedangkan   selebihnya   masihabu-abukeagamaan dalam diri seseorang. Menurut R. Starkdan C.Y. Glock dalam Jalaludin (1996), religiusitasmempunyai lima dimensi yang terdiri dari: Dimensi

(www.halalMUI.com). Labelisasi halal secara prinsip
adalah   label   yang   menginformasikan   kepada
pengguna produk yang berlabel tersebut, bahwa

Ritual  (syari’ah);

Dimensi  ideologis  (aqidah);

produknya benar-benar halal dan nutrisi-nutrisi yang

Dimensi Intelektual (ilmu); Dimensi pengalaman atau

dikandungnya tidak mengandung unsur-unsur yang

diharamkan secara syariah sehingga produk tersebut

Corresponding Author: Dwiwiyati Astogini, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal1
Soedirman Jln. HR. Bunyamin No. 708 Purwokerto 53122, Telepon: 081548802480

S
 




Aspek Religiusitas Dalam Keputusan Pembelian Produk Halal (Dwiwiyati Astogini, Wahyudin, dan Siti Zulaikha Wulandari) ___________



boleh dikonsumsi. Dengan demikian produk-produk
yang   tidak   mencantukam   label   halal   pada
kemasannya dianggap belum mendapat persetujuan
lembaga berwenang untuk diklasifikasikan kedalam
daftar produk halal atau dianggap masih diragukan


Religiusitas
Keberagaman atau religiusitas adalah sesuatu
yang amat penting dalam kehidupan manusia.
Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam
berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama

kehalalannya.

Pemberian label halal merupakan

bukan hanya  terjadi ketika seseorang melakukan

bagian dari strategi bauran pemasaran (marketing
mix), khususnya strategi produk. Pemberian label

perilaku  ritual  (beribadah),  tapi  juga  ketika
melakukan aktifitas lain yang didorong oleh kekuatan

halal pada consumer goods

sebagai bagian dari

supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan

strategi produk, dapat meningkatkan peluang bagi
produsen untuk mendapatkan market share yang
lebih menjanjikan. Label halal yang dilekatkan pada
kemasan produk, dapat berupa logo halal yang
berasal dari perusahaan itu sendiri, dan dapat juga
diperoleh dari hasil sertifikasi halal Lembaga
Pengawasan dan Peredaran Obat dan Makanan
Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI).
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan
bahwa Religion (agama) dapat mempengaruhi sikap
dan perilaku konsumen secara umum (Assadi 2003,
Bonne et al. 2007, Delener 1994, Pettinger et al.
2004);  khususnya  pada  keputusan  pembelian
makanan dan kebiasaan makan (e.g. Bonne et al.
2007). Delener (1994) menyatakan bahwa religiosity
merupakan salah satu aspek budaya terpenting yang
mempengaruhi perilaku konsumen. Hasil penelitian
Jusmaliani dan Hanny Nasution (2008) menjelaskan
tentang pengaruh aspek religiusitas terhadap minat
untuk membeli produk halal, dan perilaku membeli
bukan semata-mata merupakan fungsi rasa dan harga,
namun juga mempertimbangkan religi (agama).

aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi
juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati
seseorang. Sikap religiusitas merupakan integrasi
secara komplek antara pengetahuan agama, perasaan
serta tindakan keagamaan dalam diri seseorang.
Religiusitas dapat dilihat dari aktivitas beragama
dalam kehidupan sehari-hari yang dilaksanakan
secara rutin dan konsisten.
Menurut R. Stark dan C.Y. Glock dalam
bukunya American Piety : The Nature of Religious
Commitment (1968); religiusitas (religiosity) meliputi
lima dimensi yaitu :
1. Dimensi Ritual; yaitu aspek yang mengukur
sejauh mana seseorang melakukan kewajiban
ritualnya dalam agama yang dianut. Misalnya;
pergi ke tempat ibadah, berdoa pribadi, berpuasa,
dan                                     lain-lain.
Dimensi   ritual   ini   merupakan   perilaku
keberagamaan yang berupa peribadatan yang
berbentuk upacara keagamaan.
2. Dimensi Ideologis; yang mengukur tingkatan
sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang

Penelitian     ini     bermaksud     untuk

bersifar dogmatis dalam agamanya.

Misalnya;

menganalisis   pengaruh   Religiusitas   terhadap
keputusan   pembelian   produk   halal,   Dimensi
Religiusitas  yang  paling  berpengaruh  terhadap

menerima keberadaan Tuhan, malaikat dan setan,
surga dan neraka, dan lain-lain. Dalam konteks
ajaran Islam, dimensi ideologis ini menyangkut

keputusan  pembelian  produk  makanan  dalam

kepercayaan

seseorang   terhadap   kebenaran

kemasan  dan  mengetahui  persepsi

konsumen

agama-agamanya. Semua ajaran yang bermuara

terhadap logo halal MUI dan logo halal perusahaan.
.
Model Perilaku Konsumen
Banyak  model  perilaku  konsumen  yang
dikemukan oleh para ahli pemasaran. Salah satu
model perilaku konsumen yang dikemukakan oleh
Kotler (1999) adalah   sebagai berikut : Model
perilaku  konsumen  tersebut  merupakan  model

dari Al quran dan hadits harus menjadi pedoman
bagi segala bidang kehidupan. Keberagaman
ditinjau dari segi ini misalnya mendarma baktikan
diri terhadap masyarakat yang menyampaikan
amar ma’ruf nahi mungkar dan amaliah lainnya
dilakukan dengan ikhlas berdasarkan keimanan
yang tinggi.
3. Dimensi Intelektual; yaitu tentang seberapa jauh

Stimulus-Respon

(rangsangan


jawaban).

seseorang   mengetahui, mengerti, dan paham

rangsangan penjualan dan rangsangan lainnya yang
merupakan rangsangan dari luar yang masuk ke
dalam “kotak hitam pembeli” dan menghasilkan
jawaban tertentu. Rangsangan penjualan terdiri dari
tujuh unsur yaitu: Harga, Produk, Tempat (place),
Promosi, Kinerja (performance), Proses (process),

tentang ajaran agamanya, dan sejauh mana
seseorang itu mau melakukan aktivitas untuk
semakin menambah pemahamannya dalam hal
keagamaan yang berkaitan dengan agamanya.
Secara  lebih  luas,  Dimensi  intelektual  ini
menunjukkan  tingkat  pemahaman  seseorang

dan Orang (people). Sedangkan rangsangan lainnya

terhadap    doktrin-doktrin

agama    tentang

terdiri dari:    Ekonomi, Teknologi, Politik dan
Budaya.
Semua rangsangan baik rangsangan penjualan
maupun rangsangan lainnya melewati kotak hitam
(black box) pembeli dan menghasilkan seperangkat
jawaban  yang  teramati,  keputusan  pembelian
yangmerupakan pilihan terhadap produk, merek,
penjual, penentuan waktu pembelian dan jumlah
pembelian.

2

kedalaman ajaran agama yang dipeluknya. Ilmu
yang dimiliki seseorang akan menjadikannya
lebih luas wawasan berfikirnya sehingga perilaku
keberagamaan akan lebih terarah.
4. Dimensi Pengalaman; berkaitan dengan seberapa
jauh tingkat Muslim dalam merasakan dan
mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman
religius. Dalam Islam dimensi ini terwujud dalam
perasaan dekat dengan Allah, perasaan doa-




JEBA, Vol.13, No.1, Maret 2011


doanya sering terkabul, perasaan tentram bahagia
karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal,
perasaan khusuk ketika melaksanakan sholat,
perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau

dengan produk halal adalah produk yang memenuhi
syarat kehalalan sesuai dengan syari’at Islam yaitu :
a. Tidak mengandung babi dan bahan yang berasal
dari babi.

ayat-ayat al-qur’an, perasaan syukur kepada

b. Tidak    mengandung    bahan-bahan

yang

Allah,  perasaan  mendapat  peringatan  atau
pertolongan dari Allah.
5. Dimensi Konsekuensi; Dalam hal ini berkaitan
dengan  sejauh  mana  seseorang  itu  mau
berkomitmen dengan ajaran agamanya dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya; menolong orang

diharamkan seperti : bahan-bahan yang berasal
dari organ manusia, darah, kotoran-kotoran dan
lain sebagainya.
c. Semua bahan yang berasal dari hewan halal yang
disembelih menurut tata cara syari’at Islam.
d. Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan,

lain, bersikap jujur, mau berbagi, tidak mencuri,

pengolahan,     tempat

pengelolaan     dan

dan lain-lain. Aspek ini berbeda dengan aspek
ritual. Aspek ritual lebih pada perilaku keagamaan
yang bersifat penyembahan/adorasi sedangkan
aspek komitmen lebih mengarah pada hubungan
manusia  tersebut  dengan  sesamanya  dalam
kerangka agama yang dianut. Pada hakekatnya,
dimensi konsekuensi ini lebih dekat dengan aspek
sosial. Ditinjau dari dimensi ini semua aktivitas
yang berhubungan dengan kemasyarakatan umum
merupakan ibadah. Hal ini tidak lepas dari ajaran
Islam yang menyeluruh, menyangkut semua sendi
kehidupan

Hukum Halal Haram dalam Islam

transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi.
Jika pernah digunakan untuk babi atau barang
yang tidak halal lainnya terlebih dahulu harus
dibersihkan dengan tata cara yang diatur menurut
syari’at Islam.
e. Semua makanan dan minuman yang tidak
mengandung khamar.

Religiusitas dan Produk Halal
Beberapa penelitian telah dilakukan berkaitan
dengan perilaku konsumen dalam pembelian produk
halal. Penelitian Bonne, Iris Vermeir, Florence
Bergeaud-Blackler, Wim Verbeke (2007) dengan
judul Determinants of halal meat consumption in

Kata   halal   memilki   arti   “diijinkan,

France

bertujuan   untuk   menguji   determinan

diperbolehkan, legal, diperkenankan” . Halal berarti
diijinkan dan diperbolehkan oleh Allah; sedangkan
haram berarti dilarang. Hukum memakan yang Halal
menentukan makanan mana yang diperbolehkan dan
makanan mana yang dilarang. Orang-orang Muslim
dilarang untuk mengkonsumsi daging babi, alkohol,
darah, bangkai, dan daging hewan yang disembelih
tanpa mematuhi hukum/aturan dalam Islam.
Konsumsi produk halal tidak hanya mencakup
makanan saja, namun meliputi sejumlah produk
dalam rentang yag luas, seperti : peternakan, fashion,
cosmetics, banking, dan industri lainnya. Seorang
Muslim harus hidup sesuai dengan petunjuk yang
telah diberikan dalam setiap detil kehidupannya,
misalnya dalam pekerjaan, keuangan, kehidupan
social dan konsumsi makanan.
Pada prinsipnya semua bahan makanan dan
minuman adalah halal, kecuali yang diharamkan oleh
Allah dan Rasul-Nya. Dasar penentuan halal-
haramnya suatu makanan bagi umat Islam terdapat
dalam Al qur’an, seperti tercantum pada ayat-ayat
berikut : Bahan yang diharamkan Allah adalah
bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih
dengan nama selain Allah (QS. Al-Baqarah : 173).
Sedangkan minuman yang diharamkan Allah adalah
semua bentuk khamar (minuman beralkohol) (QS.
Al-Baqarah : 219). Hewan yang dihalalkan akan
berubah statusnya menjadi haram apabila mati karena
tercekik, terbentur, jatuh ditanduk, diterkam binatang
buas dan yang disembelih untuk berhala (QS. Al-
Maidah : 3). Jika hewan-hewan ini sempat disembelih
dengan menyebut nama Allah sebelum mati, maka
akan tetap halal kecuali diperuntukkan bagi berhala.
Mengacu pada dasar penentuan kehalaan suatu

konsumsi  produk  halal  dengan  menggunakan
pendekatan theory of planned behaviour sebagai
kerangka   konseptual.   Hasil   penelitian   ini
menunjukkan bahwa sikap positif terhadap konsumsi
daging halal pengaruh rekan dan kontrol keperilakuan
dapat memprediksi minat untuk mengkonsumsi
daging halal.
Beberapa  penelitian  menunjukkan  bahwa
Religion (agama) dapat mempengaruhi sikap dan
perilaku konsumen secara umum (Assadi 2003,
Bonne et al. 2007, Delener 1994, Pettinger et al.
2004);  khususnya  pada  keputusan  pembelian
makanan dan kebiasaan makan (e.g. Bonne et al.
2007). Delener (1994) menyatakan bahwa religiosity
merupakan salah satu aspek budaya terpenting yang
mempengaruhi perilaku konsumen. Itulah sebabnya,
mengapa religiousness, sebagai nilai yang penting
dalam struktur kognitif konsumen individu, dapat
mempengaruhi perilaku seseorang. Hasil penelitian
Jusmaliani dan Hanny Nasution (2008) menjelaskan
tentang pengaruh aspek religiusitas terhadap minat
untuk membeli produk halal, dan perilaku membeli
bukan semata-mata merupakan fungsi rasa dan harga,
namun juga mempertimbangkan religi (agama).
Secara khusus, penelitian ini memberikan bukti
empiris mengenai aspek yang mempengaruhi minat
untuk mengkonsumsi daging halal.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah :
1. Aspek   Religiusitas   berpengaruh   terhadap
keputusan pembelian produk halal.
2. Dimensi Konsekuensi merupakan dimensi yang
paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian
produk halal.

produk maka dapat disebutkan bahwa yang dimaksud


3





Aspek Religiusitas Dalam Keputusan Pembelian Produk Halal (Dwiwiyati Astogini, Wahyudin, dan Siti Zulaikha Wulandari) ___________



METODE ANALISIS

Populasi dan Sampel
Populasi target dalam penelitian ini adalah
masyarakat   di   Purwokerto   yang   merupakan
konsumen produk makanan dan minuman dalam
kemasan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100
orang yang ditentukan dengan cara menaksir proporsi
jumlah obyek yang akan diteliti. Metode penentuan


yang dikeluarkan oleh perusahaan dan label halal
yang dikeluarkan oleh MUI.
Peneliti menyebarkan 110 kuesioner dengan
respons rate adalah sebesar 91% (100 responden).
Responden berjenis kelamin laki-laki dan responden
berjenis perempuan mempunyai persentase yang
hampir seimbang, yaitu 51% responden berjenis
kelamin laki-laki dan 44% responden berjenis
kelamin perempuan. Sedangkan 5% responden tidak

sampel yang digunakan adalah

non probability

bersedia memberikan jawaban.

sampling, yaitu dengan metode purposive sampling,
yaitu dengan kriteria responden adalah konsumen
muslim yang berusia diatas 15 tahun dan melakukan
pembelian  berdasarkan  pengambilan  keputusan
sendiri.     Pemilihan  sample  dilakukan  secara
accidental sampling, dengan responden yang tersebar
di empat kecamatan di Purwokerto, yaitu Kecamatan
Purwokerto Timur, Purwokerto Barat, Purwokerto
Utara dan Purwokerto Selatan.

Definisi Operasional
Religiusitas  dalam  penelitian  ini  adalah
penghayatan agama seseorang yang menyangkut
simbol, keyakinan, nilai dan perilaku yang didorong
oleh kekuatan spiritual yang merupakan integrasi
secara komplek antara pengetahuan agama, perasaan
serta tindakan keagamaan dalam diri seseorang.
Indikator religiusitas dalam penelitian ini mengacu
pada Dimensi Religiusitas yang dikemukakan oleh R.
Stark dan C.Y. Glock (1968 ); yang meliputi lima

Mayoritas responden mempunyai rentang usia
21-30 tahun. 14% reponden berusia 31-40 tahun, 13%
berusia 41-50 tahun dan 10% berusia 51-60 tahun.
Banyak diantara responden yaitu 36% tidak bersedia
memberikan mengenai usia mereka saat ini. Namun
dari hasil pengamatan, usia mereka berkisar antara
20-40 tahun. Karakteristik responden berdasarkan
tingkat pendidikan didominasi oleh lulusan SMA
dengan persentase sebesar 36%. Kelompok terbesar
kedua adalah responden dengan tingkat pendidikan
terakhir S1, yaitu 27%. Jumlah responden dengan
tingkat pendidikan terakhir S2/S3 sebesar 18% dan
D1/D2/D3/D4 sebesar 14%.
Berdasarkan   jenis   pekerjaannya,   21%
responden bekerja sebagai PNS, yaitu karyawan
beberapa instansi pemerintah (PEMDA), dosen, dan
guru. 24% adalah karyawan swasta. 15% reponden
mempunyai pekerjaan sebagai wiraswasta, mayoritas
diantara mereka adalah pedagang. 14% reponden
adalah   ibu   rumah   tangga,   15%   adalah

dimensi yaitu : Dimensi Ritual (syari’ah); Dimensi

pelajar/mahasiswa.

Persentase   terkecil   adalah

ideologis (aqidah); Dimensi Intelektual (ilmu);
Dimensi pengalaman atau penghayatan (experiential)
dan    Dimensi    konsekuensial    (pengamalan).
Sedangkan  yang  dimaksdu  dengan  Keputusan
Pembelian Produk Halal adalah kesimpulan terbaik
individu konsumen untuk melakukan pembelian
berdasarkan proses pengambilan keputusan yang
telah   dilaluinya,   meliputi   tindakan   individu
konsumen didalam membeli produk berkaitan dengan
label halal.
Skala   Likert   digunakan   sebagai   alat
Pengukuran variable, dengan menggunakan skala
interval dalam bentuk checklist. Tiap responden
diminta  untuk  menunjukkan  persetujuan  atau
ketidaksetujuannnya pada setiap pernyataan yang
diberi skala antara 1 (sangat tidak setuju) sampai
dengan 5 (Sangat setuju).


HASIL ANALISIS

Penelitian ini menggunakan metode survey
dengan instrumen penelitian berupa kuesioner yang
dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama merupakan
pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui identitas
responden. Bagian 2 berisi pernyataan responden
mengenai aspek religiusitas dan keputusan pembelian
consumer goods oleh responden, serta bagian ke tiga

responden  yang  mempunyai pekerjaan sebagai
TNI/POLRI, yaitu sebesar 3%. 8% responden masuk
dalam kelompok lain-lain, yaitu responden yang
mempunyai pekerjaan sebagai pegawai tidak tetap,
buruh, dan pembantu rumah tangga.

Hasil Analisis Data
Uji  validitas  dan  reliabilitas  dilakukan
terhadap 30 jawaban responden Hasil analisis dengan
menggunakan korelasi product moment, yang diolah
dengan program SPSS 16.0, menunjukkan bahwa r
hitung untuk semua item pernyataan pada variabel
X1,X2,X3,X4, dan X5 lebih besar dibandingkan r
tabel (0,463) atau signifikan pada tingkat 0,01. Hal
ini menunjukkan bahwa semua item pernyataan
tersebut valid dan layak digunakan sebagai instrumen
penelitian.
Selanjutnya,   untuk   menguji   reliabilitas
kuesioner dipergunakan perhitungan dengan rumus
alpha cronbach. Nilai yang diperoleh dari hasil uji
reliabilitas terhadap item-item pernyataan dalam
variabel X1,X2,X3,X4,X5 dan variabel Y memiliki
nilai r hitung yang lebih besar dibandingkan nilai r
tabel (0,463) atau signifikan pada tingkat 0,01,
sehingga semua item pernyataan tersebut reliabel dan
layak digunakan sebagai instrumen penelitian.

Analisis Regresi Linier Berganda

berisi  pertanyaan-pertanyaan

untuk  mengetahui

Berdasarkan hasil regresi liner berganda dapat dibuat

pendapat responden terhadap kepercayaan label halal


4

persamaan sebagai berikut :




JEBA, Vol.13, No.1, Maret 2011


Y = - 0,660 + 0,185 X1 + 0,232 X2 + 0,234 X3 +
0,072 X4 + 0,392 X5
Dari hasil analisis untuk persamaan di atas dapat
diketahui bahwa Konstanta (a) sebesar0,660. Nilai

nilai koefien determinasi (R2) yang diperoleh hanya
sebesar 34,9%. Nilai koefisien determinasi tersebut
menunjukkan bahwa Aspek Religiusitas yang terdiri
dari dimensi Ritual, dimensi Ideologis, dimensi

konstanta sebesar

-0,660 menunjukkan bahwa

Intelektual,  dimensi  Pengalaman  dan  dimensi

tanpa adanya dimensi Ritual, dimensi Ideologis,
dimensi Intelektual, dimensi Pengalaman dan dimensi
Konsekuensi maka keputusan pembelian konsumen
terhadap produk halal adalah sebesar -0,660
Selanjutnya   berdasarkan   persamaan   tersebut
kemudian dilakukan pengujian hipotesis penelitian,
dengan hasil pengujian sebagai berikut :
1. Pengujian hipotesis 1
Secara simultan kelima dimensi Religiusitas
ini berpengaruh terhadap  keputusan pembelian
produk halal, yang ditunjukkan dengan nilai uji F
hitung sebesar dan nilai signifikansi F sebesar 0,000,

satu dimensi aspek Religiusitas, yaitu dimensi
Konsekuensi yang berpengaruh terhadap keputusan
pembelian produk halal.
Secara   parsial,   dimensi   Ritual   tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
keputusan  pembelian  produk  halal.  Hal  ini
ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 1,438 < t
tabel (1,96) dan nilai signifikansi sebesar 0,154 > α
(0,05).
Secara  parsial,  dimensi  Ideologis  tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
keputusan  pembelian  produk  halal.  Hal  ini
ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 1,105 < t
tabel (1,96) dan nilai signifikansi sebesar 0,272 > α
(0,05).
Secara parsial, dimensi Intelektual tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

Konsekuensi hanya berpengaruh 34,9% terhadap
keputusan pembelian konsumen, sementara 65,10%
keputusan pembelian produk halal dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak diteliti.
2. Pengujian Hipotesis Kedua
Untuk mengetahui dimensi apakah dalam
Aspek Religiusitas yang mempunyai pengaruh paling
besar terhadap keputusan pembelian produk halal
digunakan uji elastisitas. Namun demikian, karena
hanya  dimensi  Konsekuensi  yang  mempunyai
pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
produk halal, maka dimensi Konsekuensilah yang
mempunyai pengaruh terbesar dalam keputusan
pembelian produk halal. Oleh karena itu, hipotesis 2
yang menyatakan bahwa dimensi Ritual yang
mempunyai   pengaruh   paling   besar   terhadap
keputusan pembelian produk halal, ditolak.
Untuk   mengetahui   persepsi   konsumen
terhadap logo halal pada produk konsumsi diperoleh
hasil bahwa 15% responden menyatakan bahwa
mereka tetap percaya kehalalan produk yang tidak
mencantumkan label halal pada kemasan produk
yang mereka beli. Beberapa alasan yang disampaikan
adalah bahwa tidak dicantumkannya label halal pada
suatu produk tidak berarti bahwa produk tersebut
tidak halal. Hal ini terutama dapat terjadi pada
produk-produk makanan hasil produksi industri kecil
yang seringkali tidak mencantumkan label halal pada
kemasan produk mereka.
50% responden menyatakan bahwa mereka

keputusan  pembelian

produk  halal.  Hal  ini

tidak mempercayai kehalalan produk yang tidak

ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 1,294 < t
tabel (1,96) dan nilai signifikansi sebesar 0,199 > α
(0,05).
Secara parsial, dimensi Pengalaman tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

mencantumkan label halal pada sebuah produk.
Pendapat yang mereka sampaikan diantaranya adalah;
1) salah satu indikator bahwa sebuah produk halal
untuk dikonsumsi adalah adanya label halal pada
kemasan produk,maka jika tidak ada label halal

keputusan  pembelian  produk

halal.  Hal  ini

berarti produk tersebut tidak boleh dikonsumsi, 2)

ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 1,534 < t
tabel (1,96) dan nilai signifikansi sebesar 0,588 > α
(0,05).
Secara    parsial,    dimensi    Konsekuensi
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
keputusan  pembelian  produk  halal.  Hal  ini

jika tidak ada label halal maka kehalalan produk
tersebut diragukan, dan mereka berpendapat bahwa
hal-hal yang sifatnya masih meragukan lebih baik
dihindari. 3) tidak adanya jaminan kehalalan suatu
produk jika tidak mencantumkan label halal
15% responden menyatakan bahwa mereka

ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 2,301 > t

ragu-ragu

pada  kehalalan  produk  yang  tidak

tabel (1,96) dan nilai signifikansi sebesar 0,024 > α
(0,05).
Berdasarkan Uji F dan Uji t tersebut diatas,
maka Hipotesis 1 yang menyatakan bahwa Aspek
Religiusitas yang terdiri dari dimensi Ritual, dimensi
Ideologis, dimensi Intelektual, dimensi Pengalaman
dan dimensi Konsekuensi mempunyai pengaruh
terhadap keputusan pembelian produk halal, ditolak.
Nilai koefisien korelasi (r) yang diperoleh
sebesar 0,591, menunjukkan bahwa keterkaitan antara
Religiusitas yang terdiri dari dimensi Ritual, dimensi
Ideologis, dimensi Intelektual, dimensi Pengalaman
dan   dimensi   Konsekuensi   dengan   keputusan
pembelian produk halal cukup kuat. Namun demikian

mencantumkan label halal pada kemasan produknya.
Kadangkala mereka tetap membeli suatu produk
meskipun tidak ada label halalnya jika produk itu
penting  dan  harus  dikonsumsi,  serta  melihat
bonafiditas dari produsen pembuat produk tersebut.
20% responden tidak memberikan jawaban.
35% responden menyatakan bahwa mereka
mempercayai   label   halal   yang   dikeluarkan
perusahaan, meskipun tidak tercantum label halal
resmi yang dikeluarkan oleh MUI. Beberapa alasan
yang dikemukakan adalah; 1) selama ada label halal,
merupakan jaminan bahwa produk tersebut halal
untuk dikonsumsi, 2) suatu perusahaan tidak akan
sembarangan mencantumkan label halal sebagai salah

5

pada a 95%, namun secara parsial hanya terdapat
 




Aspek Religiusitas Dalam Keputusan Pembelian Produk Halal (Dwiwiyati Astogini, Wahyudin, dan Siti Zulaikha Wulandari) ___________



satu bentuk pertanggungjawaban perusahaan pada
publik, 3) tidak ada/tidak tahu perbedaan label halal
yang dikeluarkan oleh perusahaan dan yang resmi
dikeluarkan oleh MUI jadi percaya saja.
35% responden menyatakan bahwa mereka
tidak mempercayai label halal yang dikeluarkan oleh
perusahaan. Beberapa alasan yang dikemukakan
adalah; 1) perusahaan dapat saja mencantumlan label
halal pada produk yang mereka buat meskipun tanpa
uji kehalalan yang baik, 2) beberapa perusahaan akan
melakukan apa saja agar produk yang mereka
produksi dapat terjual, 3) hanya MUI lembaga yang


halal. Hal ini karena responden berpendapat bahwa
sholat, puasa, zakat, haji dan ritual-ritual lain
merupakan kewajiban sebagai muslim, lepas dari
keputusan mereka dalam membeli produk halal.
Dimensi Ritual nampak dalam hal-hal yang konkrit
dan secara langsung berhubungan dengan ritual
ibadah, sedangkan keputusan pembelian produk halal
lebih mengarah pada kegiatan muamalah yang tidak
melibatkan ritual keagamaan dalam pelaksanaanya.
Dimensi Idiologis tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Keputusan Pembelian
Produk Halal. Hasil jawaban responden untuk

benar-benar bisa dipercaya untuk mengeluarkan

pernyataan-pernyataan

dalam  dimensi  Idiologis

sertifikasi halal sebuah produk.
10% responden menyatakan bahwa mereka
ragu-ragu. Beberapa alasan yang dikemukakan
adalah; 1) saat ini banyak sekali produk yang
mencantumkan label halal yang bukan dikeluarkan
oleh MUI yang beredar di pasaran, 2) dari beberapa
kasus    sebelumnya,    untuk    produk    yang
mencantumkan label halal yang dikeluarkan oleh
MUI pun ternyata tidak halal.

Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
kurva membentuk lonceng, serta pada diagram
normal P-P plot regression standardized yang
menggambarkan keberadaan titik-titik di sekitar garis
dan pada scatter plot tampak titik-titik menyebar yang
kesemuanya   menunjukkan   model   berdistribusi
normal. Hasil ini diperkuat dengan Uji Kolmogorov
Smirnov dimana nilai asymp.sig (2 tailed) sebesar
0,242 > α (0,05), yang menunjukkan model
berdistribusi normal.
Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan uji heterokedastisitas pada dapat
diketahui bahwa pada model tidak terjadi gejala
heterokedastisitas karena nilai signifikansi seluruh
variabel X > α (0,05).
Uji Multikolinieritas
Berdasarkan uji multikolinieritas diperoleh
nilai VIF seluruh variabel < 10 sehingga dapat
dikatakan    bahwa    tidak    terdapat    gejala

mempunyai nilai rata-rata sangat tinggi yaitu 4,58.
Artinya, responden mempunyai keyakinan yang
sangat kuat bahwa Islam merupakan agama yang
paling benar dan semua yang diajarkan oleh Islam
adalah baik dan harus menjadi pedoman dalam segala
bidang  kehidupan.  Namun  dimensi  ini  tidak
berpengaruh    signifikan    terhadap    keputusan
pembelian konsumen terhadap produk halal. Hal ini
karena responden berpendapat bahwa kebenaran
Islam sudah tidak dipertanyakan lagi, lepas dari
keputusan mereka dalam pembelian produk halal.
Keyakinan akan kebenaran Islam tertanam dengan
sangat  kuat  karena  berkaitan  dengan  aspek
Ketuhanan, sdangkan dalam keputusan pembelian,
lebih dipersepsikan sebagai kegiatan muamalah yang
tidak seecara langsung berhubungan dengan aspek
Ketuhanan tersebut.
Dimensi Intelektual dan Dimensi Pengalaman
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
Keputusan Pembelian Produk Halal meskipun nilai
rata-rata pernyataan responden untuk kedua dimensi
ini cukup tinggi, yaitu 4,16 dan 4,17. Pernyataan
responden untuk kedua dimensi ini mempunyai nilai
rata-rata terendah diantara dimensi lain. Jawaban
responden mengindikasikan bahwa mereka menerima
kebenaran Islam lebih karena doktrin-doktrin yang
mereka peroleh dari penanaman ajaran Islam yang
mereka peroleh sebelumnya, bukan dari argumen dan
pemikiran logika yang kuat. Jawaban responden
untuk pernyataan tentang usaha untuk menambah

multikolinieritas pada model persamaan regresi.

pemahaman   tentang   agama   dan

menambah

Uji Autokorelasi
Berdasarkan  hasil  uji  autokorelasi  pada
lampiran 7 diperoleh nilai DW sebesar 2,017. nilai ini
terletak antara dU (0,157) dan 4-DU (2,22) sehingga
dapat  dikatakan  bahwa  tidak  terdapat  gejala
autokorelasi pada model.

Pembahasan Hasil Penelitian
Dimensi Ritual tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap   Keputusan Pembelian

pengetahuan keagamaan lewat seminar atau membaca
buku-buku keagamaan juga relatif rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa karena keengganan untuk
menambah wawasan dan pengetahuan keagamaan,
maka sebagian besar responden juga tidak memahami
akan esensi pentingnya kehalalan suatu produk.
Dalam pemahaman umum, asalkan suatu produk
tidak mengandung babi, maka dianggap halal. Pdahal
pada kenyataannya, banyak sekali produk-produk
makanan yang menggunakan zat tambahan seperti

Produk Halal. Hasil jawaban responden untuk

pengemulsi,   pengawet,   dan   sebagainya

yang

pernyataan-pernyataan

dalam   dimensi   Ritual

merupakan produk turunan atau ekstrak dari salah

mempunyai nilai rata-rata tinggi yaitu 4,31. Artinya
responden taat dalam menjalankan perintah-perintah
agama seperti sholat, puasa, membayar zakat,dan
menunaikan (berniat) untuk beribadah haji. Namun
dimensi ini tidak berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian konsumen terhadap produk

6

satu bagian tubuh babi. Hal yang demikian banyak
tidak diketahui oleh masyarakat islam sendiri, karena
kurangnya wawasan mengenai ilmu-ilmu agama yang
sifatnya muamalah.
Dimensi Konsekuensi mempunyai pengaruh
signifikan terhadap Keputusan Pembelian Produk




JEBA, Vol.13, No.1, Maret 2011


Halal. Hasil jawaban responden untuk pernyataan-
pernyataan dalam dimensi Idiologis mempunyai nilai
rata-rata sangat tinggi yaitu 4,58. Artinya keputusan
konsumen untuk membeli produk-produk yang
mereka konsumsi sehari-hari khususnya makanan
yang halal didasarkan pada konsekuensi mereka
sebagai seorang muslim. Responden mempunyai
komitmen untuk mererapkan ajaran Islam dalam

Berdasarkan temuan diatas, saran yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut :
Perusahaan hendaknya memahami perilaku
konsumen yang menjadi terget marketnya. Konsumen
Indonesia yang secara umum dipersepsikan religius,
ternyata tidak memberikan perhatian yang besar
terhadap label halal dalam keputusan pembelian
produk makanan kemasan. Namun demikian, jika

kehidupan     sehari-hari

diantaranya     untuk

dilihat dari salah satu dimensi religiusitas yaitu

mengkonsumsi yang halal dan meninggalkan yang
haram. Salah satu hal menarik yang diperoleh dalam
penelitian   ini   adalah   meskipun   responden
menyatakan bahwa label halal penting dicantumkan
dalam kemasan produk dan mereka berusaha selalu
membeli produk dengan kemasan halal dengan
memperhatikan ada tidaknya label halal pada produk

dimensi Konsekuensi, terlihat bahwa konsumen
mempertimbangkan label halal dalam kemasan
produk makanan yang dibelinya. Untuk itu, sebagai
antisipasi terhadap semakin tigginya nilai-nilai
religiuitas  didalam  masyarakat,maka  sebaiknya
perusahaan makanan dalam kemasan memberikan
label halal pada produknya.

yang mereka beli, namun jika ternyata produk yang

Perusahaan   pada   tahap

awal   dapat

terlanjur mereka beli ternyata tidak mencantumkan
label halal sebagian responden menyatakan bahwa
mereka akan tetap mengkonsumsinya dan tidak akan
mereka buang atau mereka berikan pada orang lain.
Dari hasil wawancara dan pertanyaan terbuka yang
diajukan kepada responden, beberapa hal yang
mendasari hal tersebut adalah beberapa produk
makanan kecil terutama yang diproduksi oleh industri
rumah tangga jarang mencantumkan label halal pada
kemasan produk mereka. Responden akan lebih
memperhatikan ada tidaknya label halal untuk
produk-produk buatan luar negeri contohnya produk-
produk Cina karena ketidakyakinan mereka akan
kehalalan komposisi bahan baku untuk membuat
produk tersebut.


KESIMPULAN

menggunakan logo halal yang dibuat sendiri. Namun
diupayakan   agar   kedepan,   perusahaan   dapat
memperoleh sertifikasi halal dari LPPOM MUI,
sehingga masyarakat akan semakin yakin dengan
kehalalan produk makanan dalam kemasan yang
dihasilkan perusahaan tersebut.
Berdasarkan aspek perlindungan konsumen,
maka sebaiknya pihak-pihak yang terkait seperti :
ulama,   MUI,   YLKI   dan   sebagainya   dapat
meningkatkan  pemahaman  terhadap  masyarakat
dengan   mengedukasi   mereka   mengenai   arti
pentingnya label halal yang tercantum dalam produk
makanan  dalam  kemasan.   Dengan  demikian,
masyarakat terjamin dalam mendapatkan produk
makanan yang halalan thoyiban.


DAFTAR PUSTAKA


1.



2.

Berdasarkan Uji F dan Uji t yang dilakukan
dalam penelitian ini, diketahui bahwa Aspek
Religiusitas   tidak   berpengaruh   terhadap
keputusan pembelian produk halal.
Diantara 5 Dimensi Religiusitas yang terdiri dari

Ancok,

Jamaludin dan  Fuad  Anshari  Suroso,
Psikologi  Islam  :  Solusi  Islam  Atas
Problema-ProblemaPsSikologi,     Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 1995.

Dimensi Ritual, Dimensi Ideologis, Dimensi
Intelektual, Dimensi Pengalaman dan Dimensi
Konsekuensi, yang paling berpengaruh terhadap

Al Quran dan Terjemahan, Thoha Putra, Semarang,
1995.

keputusan  pembelian  produk  halal  adalah

Assael, Henry.  (1984)

Consumer Behavior and

dimensi Konsekuensi.

Marketing Action. Fourth Edition.   Kent

3.

Berdasarkan persepsi konsumen terhadap logo
halal  LPPOM-MUI
dan  logo  halal  yang
dikeluarkan oleh perusahaan diperoleh hasil

Publishing Company. Boston.

Engel, J.F Blacwell. Roger D. & Paul W. Winiard.

bahwa 35% responden mempercayai label halal

(1997)

Perilaku Konsumen. Alih Bahasa:

yang dikeluarkan perusahaan, 35% responden
menyatakan bahwa mereka tidak mempercayai
label halal yang dikeluarkan oleh perusahaan;
10% responden menyatakan bahwa mereka ragu-
ragu dan 20% responden tidak menjawab.
Dengan demikian, responden mempercayai label
halal baik yang dikeluarkan oleh MUI maupun
yang di keluarkan oleh perusahaan. Namun, label
halal   MUI   akan   lebih   dipertimbangkan

Budiyanto. F.X. Jilid II, Binapura Aksara.
Jakarta.

Fishbein, M. A. & Ajzen, I. (1975). Belief, attitude,
intention and behavior: An introduction to
theory and research. Reading, MA:Addison-
Wesley.

Engel, J.F Blacwell. Roger D. & Paul W. Winiard.

konsumen karena konsumen tidak merasa ragu-

(1997)

Perilaku Konsumen. Alih Bahasa:

ragu akan kehalalan suatu produk.

Budiyanto. F.X. Jilid I, Binapura Aksara.
Jakarta.


7





Aspek Religiusitas Dalam Keputusan Pembelian Produk Halal (Dwiwiyati Astogini, Wahyudin, dan Siti Zulaikha Wulandari) ___________



Imron (Jurnal Cakrawala Fakultas Agama Islam
UMM) Religiusitas Dan Kecerdasan Emosi


Sugiono, (1999) Metode Penelitian Bisnis, Penerbit
CV. ALFABETA. Bandung.

(Perspektif Psikologi Islami)
Wibisono, M. Agung, (2008). Hubungan Antara

Jalaludin, Psikologi Agama, Raja Grafindo, Jakarta,
1996.

Persepsi  Konsumen  Muslim  Terhadap
Labelisasi Halal Makanan Kaleng Dengan
Pengambilan Keputusan Pembelian Pada

Jamaludin   Ahmad

www.biropersonel.metro.net                          ,

Konsumen    Muslim    Di    Surabaya,

diases pada tanggal 28 Maret 2008

Jusmaliani & Hanny Nasution. (2008) Religiosity

Undergraduate Theses, Unair

Vijay Amin, Business Opportunities in Halal Food.

Aspect     in     Consumer

Behaviour:

www.abi.co.uk

Determinants of Halal Meat Consumption

Centre for Economic and Development
Studies, Indonesian Institute of Sciences
Department   of   Marketing,      Monash

http://www.posmetropadang.com.Perilaku Konsumen
Sebaiknya Harus Diteliti (Sabtu, 19 Juli
2008)

University Jurnal NCMR 2008
http://www.btimes.com.my
Karijn Bonne, Iris Vermeir, Florence Bergeaud-

Blackler, Wim Verbeke Determinants of
halal meat consumption in France Journal:
British Food Journal Year: 2007 Volume:
109 Issue: 5 Page: 367 386 ISSN:
0007-070X

www.halal-MUI.com (Diakses tanggal 20
Februari 2010)


Kerlinger,   F.N.   1990.

Asas-asas

Penelitian

Behavioral, Jilid I, edisi ketiga. UGM Press,
Yogyakarta


Kotler, Philip.   (1999)

Manajemen Pemasaran.

Analisis, Perencanaan, Implementasi dan
Pengendalian. Alih Bahasa:  Acelia A.H.
Jilid I. Salemba Empat Jakarta.


Kotler

Philip.  (1999).

Manajemen  Pemasaran,

Analisis Perencanaan Implementasi dan
Kontrol, Jilid I PT. Prenhalindo, Jakarta
Loudon, DL and Della Bitta A.J. (1993) Consumer

Behaviour Concept and Application.

Mc.

Grow Hill. New York.Masri Singarimbun
dan Sofian Effendi. 1989. Metodologi
Penelitian Survei. LP3ES, Jakarta

Mowen, J.C. & Minor, M. (2003). Perilaku
Konsumen : Jilid 1. L.Salim (penerjemah).
Erlangga, Jakarta.

Malhotra, Naresh K. (1996). Marketing Research An
Applied   Orientation.   Second   Edition,
Prentice-Hall International, Inc. New Yersey


Noharuddin  Nordin.

Greater  awareness,  more

options      boost      halal      market,

http://www.btimes.com.my

(Published:

2009/04/13)

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1996.